PENDIDIKAN ISLAM DI SUMATERA SELATAN

Kota Palembang merupakan kota tertua di Indonesia berumur setidaknya 1382 tahun jika berdasarkan prasasti Sriwijaya yang dikenal sebagai prasasti Kedudukan Bukit. Menurut Prasasti yang berangka tahun 16 Juni 682 M. Pada saat itu oleh penguasa Sriwijaya didirikan Wanua di daerah yang sekarang dikenal sebagai kota Palembang. Menurut topografinya, kota ini dikelilingi oleh air, bahkan terendam oleh air. Air tersebut bersumber baik dari sungai maupun rawa, juga air hujan. Bahkan saat ini kota Palembang masih terdapat 52,24 % tanah yang yang tergenang oleh air (data Statistik 1990).[1] Berkemungkinan karena kondisi inilah maka nenek moyang orang-orang kota ini menamakan kota ini sebagai Palembang dalam bahasa melayu Pa atau Pe sebagai kata tunjuk suatu tempat atau keadaan; sedangkan lembang atau lembeng artinya tanah yang rendah, lembah akar yang membengkak karena lama terendam air (menurut kamus melayu), sedangkan menurut bahasa melayu-Palembang, lembang atau lembeng adalah genangan air. Jadi Palembang adalah suatu tempat yang digenangi oleh air. Selain kerajaan Sriwijaya, di Palembang juga berdiri Kesultanan Palembang Darussalam, yang mencapai masa puncaknya bersama penyebaran ajaran Islam, di nusantara. Sebelum berdiri Kesultanan Palembang Darussalam, telah berdiri Kesultanan Palembang, dari Kiyai Gede Sedo Ing Lautan hingga Pangeran Sedo Ing Rejek. Saat itu, Palembang menjadi wilayah kekuasaan Demak, dan Mataram. Baru di masa Pangeran Ario Kesumo, Palembang memutuskan hubungan dengan Mataram. Kesultanan Palembang merupakan sebuah Kerajaan Melayu Islam bercorak maritim yang berkedudukan di Palembang. Ia mulai memainkan peranan dalam sejarah Indonesia pada pertenghan abad ke-16, dan berakhir pada abad ke-19 setelah secara sistematis dan berencana dapat di kuasai oleh Belanda.Menurut sebuah versi Kesultanan Palembang dipimpin untuk pertama kali oleh Kyai Gedeng Suro.Di dalam sebuah catatan yang telah diterbitkan Woelders, yang didalam tulisan dinamakan “Daftar Raja-raja Palembang” diceritakan: Raja pertama pada tahun 966 H yaitu Keding Suroh, lamanya ia menjadi raja dua tahun. Raja kedua pada tahun 968 H diganti saudaranya Keding Ilir, lamanya setahun, tetapi ia juga berjuluk Kedingsuro.[2]

  

BAB II

 

  1. Sampai saat ini belum ada ahli-ahli yang berhasil menunjukkan sumber tertulis tentang Masuk dan Berkembangnya Islam di Sumatera Selatan apalagi menentukan secara tepat mengenai tanggal dan tahun masuknya agama Islam di daerah Sumatra Selatan, Sedangkan mengenai kurun waktu Islam memasuki kepulauan Nusantara, para ahli hanyalah mengemukakan teori kemungkinan yang berbeda-beda. Meskipun teori yang satu dengan yang lain berbeda pendapat, namun pada dasarnya teori-teori itu selalu dikaitkan dengan jalur pelayaran dan perdagangan dunia melewati Selat Malaka. Dengan kata lain jalan dagang tersebut dapat dianggap sebagai “jalan-kebudayaan’’ dari abad ke abad, yang sekaligus merupakan perintis jalan bagi penetrasi Islam ke daerah-daerah kepulauan Nusantara, terutama ke daerah Sumatra bagian selatan. Sebagai akibat keadaan-keadaan setempat dan motif politik yang menguasainya, mungkin sekali telah mempermudah Islam berkembang dikalangan masyarakat setempat melalui jalan damai, seperti dikota bandar yang terletak di sisi jalan dagang tersebut. Salah satu kota bandar yang mendapat pengaruh Islam adalah Palembang, yang pada masa lampau pernah berperan sebagai riverpor capital di zaman Sriwijaya.Setelah Sriwijaya mulai pudar di kaki langit keruntuhannya, hadirnya bangsa Portugis di Malaka pada tahun 1511 dan timbulnya revolusi Kraton di Demak,[3] maka setapak demi setapak agama Islam dikembangkan oleh para Mubaligh pribumi yang berasal dari Demak, Banten, Jambi dan Palembang. Perkembangan agama Islam itu lebih intensif setelah Kesultanan Palembang mengakui Islam sebagai agama resmi dalam abad ke 17 Masehi. Sejak abad itu boleh dikatakan Islam secara sah menggantikan kedudukan agama negara yang lama ( Budha ). Dengan demikian Islam juga menjadi agama seluruh penduduk pusat kerajaan karena pada umumnya di negeri kita ini agama raja adalah agama rakyat. Jalan dagang tradisional yang terbentang antara Laut Merah – India – Selat Malaka – Daratan Tiongkok merupakan “benang emas yang halus di sepanjang pantai dalam wilayah kepulauan nusantara”. Besar kemungkinan agama itu telah dibawa oleh pedagang – pedagang Muslim pada abad pertama Hijriyah, karena orang Arab sendiri jauh sebelum Islam telah melakukan pelayaran yang luas ke timur. Menurut sumber dari orang Arab sendiri, di antara pedagang – dagang yang melakukan pelayaran perdagangan ke timur itu adalah orang Arab, Persi Gujarat. mereka telah memilikin perkampungan di Khanfu (kanton) dan telah ikut serta mengambil bagian dalam suatu huru-hara di daerah Cina Selatan bersama para petani setempat peristiwa itu terjadai pada zaman Dinasti Tang, yaitu pada masa pemeritahan kaisar Hi Tsung tahun 878- 889 M. [4] Penguasaan jalan laut perdagangan oleh Bangsa Arab jauh lebih maju dari bangsa Barat. Saat itu bangsa Arab telah menguasai perjalanan laut dari Samudera India yang mereka namakan Samudera Persia kala itu. Sejak pra Islam. Maka Teluk Persia dengan pelabuhan Siraf dan Basra sebagai pusat perdagangan antara negara Arab, Persia, Cina, dan negeri Afrika. Daerah Palembang memiliki letak geografis yang sangat strategis. Palembang sudah sejak masa kuno (setidak-tidaknya sejak permulaan tahun masehi) menjadi tempat singgah para pedagang yang berlayar di Selat Malaka, baik yang akan pergi ke negeri Cina dan daerah Asia Timur lainnya maupun yang akan melewati jalur barat ke India dan negeri Arab serta terus ke Eropa. Selain para pedagang, para peziarah pun banyak menggunakan jalur ini. Menurut sebuah catatan sejarah Cina yang ditulis oleh It’tsing, ketika ia berlayar ke India dan akan kembali ke negeri Cina, ia tertahan di Palembang. Di sana ia membuat catatan tentang kota dan penduduknya. Berdasrkan pendapat Sayid Naguib Al-Atas, kedua tempat di tepi Selat Malaka pada permulaan abad ke-7 M yang menjadi tempat singgah para musafir Islam dan diterima dengan baik oleh penguasa setempat yang belum beragama Islam ialah Palembang dan Kedah. Dengan demikian, jika kita mengikuti pendapat tadi, maka pada permulaan Hijriah atau abad ke-7 M di Palembang sudah ada masyarakat Islam yang oleh penguasa setempat (Raja Sriwijaya) telah diterima dengan baik dan dapat menjalankan ibadat menurut agama Islam. Sejak berdirinya, kerajaan bercorak Islam di wilayah Sumatera bagian selatan, baru mulai berkembang beberapa abad kemudian yakni sekitar akhir abad ke-15 M. Namun demikian, Palembang dengan kerajaan yang masih beragama Hindu, pada awal abad ke-16 M telah terdapat keluarga raja Palembang yang beragama Islam. Berita dari sumber babad memberikan keterangan yang cukup terperinci tentang peranan kerajaan Palembang yang membina dua tokoh yang kemudian menjadi pemgembang kerajaan Islam. Kedua tokoh tersebut ialah Raden Patah dan Raden Husen (Adipati Terung). Sumber babad yang menyebutkan tentang peranan Raden Patah sebgai raja Islam yang pertama di Jawa dan pendiri kerajaan Demak, menyebutkan pula babad Tanah Purwaka Caruban Nagari dan Negarakertabumi. Ia adalah keturunan dari raja Majapahit yang dididik dan dibesarkan di Palembang dan kemudian oleh raja Majapahit diberi nama Kertabumi. Ia diberi tanah perdikan bernama Glagah Wangi. Dari tempat inilah ia kemudian atas bantuan wali sanga mendirikan kerajaan Demak. Bertitik tolak dari tahun kematian raja Kertabumi yang terkenal dalam legenda Jawa dengan candrsasangka sirna hilang kertaning bhumi (1400 Caka atau 1748 M), dapat pula ditafsirkan bahwa Kertabumi wafat pada tahun 1400 Caka atau 1748 M. Pada tahun wafatnya itu kerajaan Demak sudah berdiri. Dengan demikian, kerajaan Palembang pada tahap awal di bawah asuhan Ario Damar atau Ario Dilah (Ario Abdillah) telah benyak berperan dalam mendidik dan membesarkan raja Islam yang kemudian menjadi pendiri kerajaan Demak yakni Raden Patah. 
    Maka dapat kita turut di sini ada dua peranan besar daerah Palembang dan Sumatera Selatan. Pada tahap pertama ketika kerajaan Sriwijaya masih berdiri kokoh, mereka telah menerima kehadiran orang-orang Islam untuk bermukim di pelabuhan Palembang dengan memberikan kesempatan kepada mereka menganut dan menjalankan ibadah Islam. Kejadian ini menurut Al-Atas, ialah pada permulaan abad ke-7 M. Pada tahap kedua ketika kerajaan Palembang sudah bercorak Islam, mereka telah mebina seorang calon raja dan penguasa Islam yang pertama di Jawa, yakni Raden Patah di bawah asuhan Ario Dilah. Dari Ario Dilah inilah kemudian lahir dan menjadi penerus raja-raja Islam di Palembang. 
  2. Pendidikan Islam di Sumatera Selatan Agama Islam masuk ke Sumatera Selatan adalah dari jurusan Jawa Barat, maka pendidikan Islam di Sumatera Selatan banyak mengikuti pendidikan Islam di Jawa. Pada masa awal kemerdekaan Indonesia (tahun 1947), ketika Sumatera menjadi satu provinsi yang berpusat di Pematang Siantar dan kemudian di Bukittinggi, maka sebagian madrasah-madrasah di Sumatera Selatan mengikuti sistem madrasah-madrasah di Sumatera Tengah. 
    Menurut Mahmud Yunus, di Sumatera Selatan tidak dikenal kitab Dlammun, sebagaimana di Jawa. Begitu juga kitab Safinatun Najah yang dikenal orang di Sumatera Selatan dan di Jawa, tetapi tidak dikenal orang Minangkabau. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam di Sumatera Selatan memiliki banyak kesamaan dengan pendidikan Islam di Jawa.1. Pesantren-Pesantren/Madrasah-adrasah di Sumatera SelatanPesantren-pesantren/madrasah-madrasah di Sumatera Selatan itu bisa dibilang banyak semenjak tersebarnya agama Islam sampai sekarang. Diantara pesantren-pesantren/madrasah-madrasah yang tertua dan termasyhur pada saat itu ialah: 

1. Madrasah Al-QuraniyahMadrasah ini didirikan oleh Kamas kiyai H. Muhamamd Yunus kira-kira pada tahun 1920 M di Palembang. Madrasah ini terdiri dari bagian ibtidaiyah dan tsanawiyah. Pada masa kemasyhurannya murid-muridnya sampai berjumlah kurang lebih 400 orang dan guru-gurunya 5 orang dan madrasah ini masih hidup sampai sekarang.

2. Madrasah Diniah AhliyahMadrasah ini didirikan oleh K. Masagus H. Nanang Misri. Kira-kira pada tahun 1920 M di Palembang. Madrasah Diniyah Ahliyah ini terdiri dari 2 tingkatan ibtidaiyah dan tsanawiyah.

3. Madrasah Nurul FalahMadrasah ini didirikan oleh K.H. Abu Bakar Al-Bastari, kira-kira pada tahun 1934 M di Palembang. Madrasah ini terdiri dari tiga bagian, yaitu:

  1.  Tingkat ibtidaiyah, lama pelajarannya 5 tahun 
  2.  Tingka tsanawiyah , lama pelajarannya 3 tahun

c. Tingkat ‘aliyah, lama belajarnya 2 tahun Pada masa keemasannya murid madrasah-madrasah ini sampai berjumlah kurang lebih 600 orang dan masih hidup sampai sekarang.

 4. Madrasah Darul Funun Madrasah ini didirikan oleh K.H Ibrahim, kira-kira pada tahun 1938 M di Palembang. Madrasah ini terdiri dari bagian ibtidaiyah dan tsanawiyah, tetapi sekarang hanya terdiri dari bagian ibtidaiyah saja. Selain madrasah-madrasah di atas masih banyak lagi madrasah-madrasah di Sumatera Selatan dari kota-kota sampai dusun-dusun, seperti madrasah-madrasah: Salatihiah, Diniyah, Tarbiyah Islamiyah, Nurul Huda, dan lain-lain.Pada zaman kemerdekaan Indonesia telah didirikan SMI (Sekolah Menengah Islam), SMPI ( Sekolah Menengah Pertama Islam) dan PGA di Tanjung Karang dan Palembang. Di samping itu, berdiri pula 8 SRI Negeri di Lampung. 
Kitab-kitab yang dipakai di pesantren-pessantren Sumatera Selatan hampir sama dengan kitab-kitab yang dipakai di pesantren-pesantern di Jawa, seperti Ajrumiah, Syekh Khalid, Azhari, Qathrun Nada, Ibnu ‘Aqil, Matan Bina, Kailani, Sanusiah, Ummul Barahin (Dusuqi), Safinatun Najah, Fathul Qarib, Fathul Mu’in, dan lain-lain.Begitu Juga kitab-kitab yang dipakai di madrasah-madrasah Sumatera Selatan hampir sama dengan kitab-kitab yang dipakai di Jawa, terutama Jakarta, karena dekatnya herhubungan antara Sumatera Selatan dan Jakarta. 

2. Perguruan Tinggi Islam Di Sumatera Selatan
Di awal perkembangan pendidikan Islam di Sumatera Selatan, belum banyak berdiri perguruan-perguruan tinggi Islam. Namun, pada saat itu di Sumatera Selatan telah ada sebuah perguruan tinggi yang membuka fakultas Hukum Islam.
Fakultas Hukum Islam ini didirikan pada bulan September 1957 M. Didirikan oleh Yayasan Perguruan Islam Tinggi Sumatera Selatan. 
Fakultas Hukum Islam ini terdiri dari:

  1. a.      Persiapan (Propaediuse) selama 1 tahun

b. Bacalaureat I dan II selama 2 tahun (lengkap)
c. Doktoral I dan II (tamat) selama 2 tahun
Berikut ini adalah mata pelajaran pada masing-masing tingkat:
1. Propaediuse:

a. Fiqih/Ushul Fiqih

b. Tarikh Tasyri’ Islam

c. Pengetahuan Ilmu Tafsir

d. Hadits/Musthalah

e. Sejarah Kebudayaan Islam

     f. Bahasa Arab
g. Pengantar Ilmu Ekonomi

h. Pengantar Ilmu Hukum 

i. Sosiologi

j. Ilmu Negara

k. Bahasa Inggris
l. Ilmu Kalam
2. Bacalaureat I:
a. Fiqih/Ushul Fiqih
b. Tarikh Tasyri’ Islam
c. Pengetahuan Ilmu Tafsir
d. Hadits/Musthalah
e. Sejarah Kebudayaan Islam
f. Bahasa Arab 
g. Hukum Perdata
h. Hukum Pidana
i. Ilmu Kalam 
j. Hukum Tata Negara
k. Bahasa Inggris 
l. Bahasa Perancis
3. Bacalareat II:
a. Fiqih/Ushul Fiqih
b. Tafsir
c. Hadits/Musthalah
d. Filsafah Islam
e. Perbandingan Agama
f. Bahasa Arab
g. Hukum Perdata II/Dagang
h. Hukum Pidana II
i. Ekonomi Indonesia
j. Hukum Acara Pidana
k. Bahasa Inggris
l. Bahasa Perancis
4. Doktoral I:
a. Fiqih
b. Tasawuf
c. Tafsir
d. Bahasa Arab
e. Ilmu Kalam
f. Filsafah Islam 
g. Hukum Adat
h. Kriminologi 
i. Hokum Tata Usaha Negara
j. Hukum Acara Perdata/Dagang
5. Doktoral II:
a. Tarikh Qadla wal Qudhlah fil Islam
b. Mizanul Qadlaiyah
c. Tautsiqatus Syari’ah
d. Hukum Intergentil (perselisihan)
e. Hukum Antar Negara
f. Filsafat Hukum 
Fakultas Hukum Islam Menganut sistem bebas dalam studinya, bukan sistem terpimpin. Mahasiswa yang telah mengikuti kuliah pada satu tingkat selama satu tahun diberi kebebasan untuk mengikuti kuliah pada tingkat yang lebih tinggi, kecuali untuk tingkat doktoral. Mahasiswa diharuskan menyelesaikan lebih dahulu ujiannya pada tingkat Bacalaureat II (lengkap), kemudian baru boleh mengikuti kuliah pada tingkat doktoral. 
Fakultas Hukum Islam ini pada mulanya dipimpin oleh A. Gani Sindang, kemudian dipimpin oleh K.H. Abu Bakar Basatari sampai tahun 1959. Pada saat itu jumlah dosennya ada 12 orang. 
C. Tokoh Pendidikan Islam Sumatera Selatan
1. Abdul Shamad Al-Palembani
Dalam perkembangan intelektualisme Islam Nusantara khususnya pada abad 18, peranan Syekh Abdul Samad Al-Palembani tidak dapat dikesampingkan. Ia merupakan kunci pembuka dan pelopor perkembangan intelektual Nusantara. 
• Riwayat Hidup
Beliau dilahirkan pada 1116 H / 1704 M di Palembang. Tentang nama lengkapnya, terdapat tiga versi nama. Yang pertama, seperti dilansir Ensiklopedia Islam, ia bernama lengkap Abdus Shamad Al-Jawi Al-Palimbani. Versi kedua, merujuk pada sumber-sumber Melayu, sebagaimana dikutip Azyumardi Azra, ulama besar ini memiliki nama asli Abdus Shamad bin Abdullah Al-Jawi Al-Palimbani. Sementara versi terakhir, bahwa bila merujuk pada sumber-sumber Arab, maka Syeikh Al-Palimbani bernama lengkap Sayyid Abdus Al-Shamad bin Abdurrahman Al-Jawi. [5]
• Pemikiran Abdul Shamad Al-Palembani
Al-Palimbani berperan aktif dalam memecahkan dua persoalan pokok yang saat itu dihadapi bangsa dan tanah airnya, baik di kesultanan Palembang maupun di kepulauan Nusantara pada umumnya, yaitu menyangkut dakwah Islamiyah dan kolonialisme Barat. Mengenai dakwah Islam, ia menulis buku berjudul Tuhfah al-Ragibtn ft Sayan Haqfqah Iman al-Mukmin wa Ma Yafsiduhu fi Riddah al-Murtadin. Di mana ia memperingatkan pembaca agar tidak tersesat oleh berbagai paham yang menyimpang dari Islam seperti ajaran tasawuf yang mengabaikan syariat, tradisi menyanggar (memberi sesajen) dan paham wujudiyah muthid yang sedang marak pada waktu itu. Drewes rnenyimpulkan bahwa kitab ini ditulis atas permintaan sultan Palembang, Najmuddin, atau putranya Bahauddin karena di awal kitab itu ia memang menyebutkan bahwa ia diminta seorang pembesar pada waktu itu untuk menulis kitab tersebut. Mengenai kolonialisme Barat, Al-Palimbani menulis kitab Nasihah al-Muslimin wa tazkirah al-Mu’min fi Fadail Jihad ti Sabilillah, dalam bahasa Arab, untuk menggugah semangat jihad umat Islam sedunia. Tulisannya ini sangat berpengaruh pada perjuangan kaum Muslimun dalam melawan penjajahan Belanda, baik di Palembang maupun di daerah-daerah lainnya. Hikayat Perang Sabil-nya Tengku Cik di Tiro dikabarkan juga mengutip kitab tersebut. Masalah jihad fi sabililiah sangat banyak dibicarakan Al-Palimbani. Pada tahun 1772 M, ia mengirim dua pucuk surat kepada Sultan Mataram (Hamengkubuwono I) dan Pangeran Singasari Susuhunan Prabu Jaka yang secara halus menganjurkan pemimpin-pemimpin negeri Islam itu meneruskan perjuangan para Sultan Mataram melawan Belanda. 
• Karya Tulis Al-Palembani 
Tercatat delapan karya tulis Al-Palimbani, dua diantaranya telah dicetak ulang beberapa kali, dua hanya tinggal nama dan naskah selebihnya masih bisa ditemukan di beberapa perpustakaan, baik di Indonesia maupun di Eropa. Pada umumnya karya tersebut meliputi bidang tauhid, tasawuf dan anjuran untuk berjihad. Karya-karya Al-Palimbani selain empat buah yang telah disebutkan di atas adalah:
1. Zuhrah al-Murid fi Bayan Kalimah al-Tauhid, ditulis pada 1178 H/1764 M di Makkah dalam bahasa Melayu, memuat masalah tauhid yang ditulisnya atas permintaan pelajar Indonesia yang belum menguasai bahasa Arab. Al-’Uwah al-Wusqa wa Silsilah Ulil-Ittiqa’, ditulis dalam bahasa Arab, berisikan wirid-wirid yang perlu dibaca pada waktu-waktu tertentu.
2. Ratib ‘Abdal-Samad, semacam buku saku yang berisi zikir, puji-pujian dan doa yang dilakukan setelah shalat Isya. Pada dasarnya isi kitab ini hampir sama dengan yang terdapat pada Ratib Samman. Zad al-Muttaqin fi Tauhid Rabb al-’Alamin, berisi ringkasan ajaran tauhid yang disampaikan oleh Syekh Muhammad al-Samman di Madinah. 
3. Mengenai Hidayah al-Salikin yang ditulisnya dalam bahasa Melayu pada 1192 H/1778 M, sering disebut sebagai terjemahan dari Bidayah al-Hidayah karya Al-Ghazali. Tetapi di samping menerjemahkannya, Al-Palimbani juga membahas berbagai masalah yang dianggapnya penting di dalam buku itu dengan mengutip pendapat Al-Ghazali dari kitab-kitab lain dan para sufi yang lainnya. Di sini ia menyajikan suatu sistem ajaran tasawuf yang memusatkan perhatian pada cara pencapaian ma’rifah kesufian melalui pembersihan batin dan penghayatan ibadah menurut syariat Islam. [6]
4. Sedangkan Sayr al-Salikin yang terdiri dari empat bagian, juga berbahasa Melayu, ditulisnya di dua kota, yaitu Makkah dan Ta’if, 1779 hingga 1788. Kitab ini selain berisi terjemahan Lubab Ihya’ Ulum al-Din karya Al-Ghazali, juga memuat beberapa masalah lain yang diambilnya dari kitab-kitab lain. Semua karya tulisnya tersebut masih dijumpai di Perpustakaan Nasional Jakarta.

 

                                                             BAB III

                                                         PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Agama Islam masuk ke Sumatera Selatan adalah dari jurusan Jawa Barat dan melalui pelayaran dan perdagangan yang dilakukan oleh bangsa Arab di Selat Malaka. Palembang yang pada waktu itu merupakan kota bandar (pelabuhan) disinggahi oleh para pedagang dari bangsa Arab yang beragama Islam. Dari sinilah Islam berkembang di Palembang, Sumatera Selatan.
2. Pendidikan Islam di Sumatera Selatan memiliki banyak kesamaan dengan pendidikan Islam di Jawa, hal ini dibuktikan dengan adanya kesamaan kitab yang diajarkan di pondok pesantren di Jawa dan kitab yang diajarkan di Sumatera Selatan.
3. Diantara pondok pesantren maupun madrasah yang ada di Sumatera Selatan adalah sebagai berikut:
a. Madrasah Al-Quraniyah
Didirikan oleh Kamas kiyai H. Muhamamd Yunus. Madrasah ini terdiri dari bagian ibtidaiyah dan tsanawiyah.
b. Madrasah Diniah Ahliyah
Didirikan oleh K. Masagus, H. Nanang Misri. Madrasah Diniyah Ahliyah ini terdiri dari 2 tingkatan ibtidaiyah dan tsanawiyah.
c. Madrasah Nurul Falah
Didirikan oleh K.H. Abu Bakar Al-Bastari, Madrasah ini terdiri dari tiga bagian, yaitu: ibtidaiyah, tsanawiyah, dan tingkat ‘aliyah.
d. Madrasah Darul Funun 
Madrasah ini didirikan oleh K.H Ibrahim. Madrasah ini terdiri dari bagian ibtidaiyah dan tsanawiyah.
4. Pada masa awal perkembangan pendidikan Islam, perguruan tinggi Islam belum banyak berkembang. Pada waktu itu di Sumatera Selatan hanya ada Fakultas Hukum Islam.
5. Diantara tokoh pendidikan Islam di Sumatera Selatan adalah Abdul Shamad Al-Palembani.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                  DAFTAR PUSTAKA
Gajahnata dan Sri Edi Swasana. 1986. Masuk dan Berkembangnya Islam di Sumatera Selatan. Jakarta:UI Press.
Hardja Sapoetra. 2010. Kesultanan Palembang dan Peranannya dalam Pembentukan Khazanah Intelektual Islam (Sejarah Islam Asia Tenggara). http://www.hardja-sapoetra.co.cc/2010/03/kesultanan-palembang-dan-peranannya.html. Diakses 28 Mei 2010.
Mahmud Yunus. 1992. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Mutiara Sumber Widya. 
Rudiansyah Harahap. 2010. Pendidikan Islam Pada Masa Kerajaan di Sumatera. http://rudiansyahharahap-parsalakrinso.blogspot.com/2010/02/pendidikan-islam-pada-masa-kerajaan-di.html. Diakses 15 Mei 2010.

 


[1] Gajahnata dan Sri Edi Swasana. 1986. Masuk dan Berkembangnya Islam di Sumatera Selatan. Jakarta:UI Press

[2] Ibid hal 34

[3] Mahmud Yunus. 1992. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Mutiara Sumber Widya.

[4] Ibid hal 56

[5] Hardja Sapoetra. 2010. Kesultanan Palembang dan Peranannya dalam Pembentukan Khazanah Intelektual Islam (Sejarah Islam Asia Tenggara).

[6] Rudiansyah Harahap. 2010. Pendidikan Islam Pada Masa Kerajaan di Sumatera. http://rudiansyahharahap-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s